Selasa, 09 Juli 2013

Liburan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Hai semua, bagaimana liburannya? Kalau saya sih selama liburan males kemana-mana. Cuma browsing saja di rumah. Tapi tanggal 6 kemarin, kelas saya ngajak ke pantai. Ya teman sekelas, satu kelas, alias semuanya ke pantai. Walaupun ada yang tidak ikut karena ada acara sendiri. Tapi seru sekali! Walaupun berangkatnya sempat molor gara-gara ada yang kesiangan. Padahal saya sudah bela-belain bangun pagi dan berangkat pagi dingin-dinginan tuh. Tapi tak apalah yang penting berangkat :P. Ceritanya kendaraan antara siswa laki-laki dan perempuan di pisah agar tidak terlalu desak-desakan. Nah, di kendaraan yang perempuan ini benar-benar heboh. Sepanjang jalan ramai terus, sambil nonton video dangdut aneh di TV kendaraan -_- dan ngikut-ngikut gayanya. Terus belum juga perjalanan jauh, sudah pada kresek-kresek nyari camilan. Lalu teriak-teriak nggak jelas ketika lihat anak SMP pacaran di atas motor, ckck..
Yang paling aku nggak suka itu ketika tiba di jalan yang belok-belok naik turun. Serasa di kocok dalam kendaraan. Benar-benar pusing, apalagi ketika mencium bau ikan asap yang entah darimana asalnya. Jarak dekat serasa jauh.
Ketika sampai di lokasi, kami langsung menuju ke pantainya untuk foto-foto. Sebenarnya bukan kami sih, tapi teman-teman soalnya aku nggak ikut mereka. Aku cuma duduk di tikar sama Iga dan Yuni soalnya bener-bener males mainan air. Sedangkan yang laki-lakinya pada berenang kecuali Bimo dan Ryan soalnya nggak bawa ganti. Akhirnya karena serasa pengangguran, saya, Bimo, Ryan mainan pasir kemudian di susul Via. Beberapa waktu kemudian beberapa siswa perempuan kembali dan kami makan tanpa beberapa siswa laki-laki karena katanya mau naik perahu dahulu. Hingga akhirnya ketika mau pulang, kami semua menunggu siswa laki-laki yang naik perahu itu. Namun mereka tidak kembali-kembali dan Si Krisna dapat telpon dari Iqbal yang katanya mereka terdampar di suatu pulau. Akhirnya Krisna mencari perahu yang dinaiki mereka tadi. Lama sekali perahu itu menyusul karena memang pulaunya jauh. Setelah mereka kembali, mereka segera ke toilet entah mandi atau cuma ganti dan usai itu mereka langsung makan karena mungkin kelaparan -_-.
Di ujung acara kami berfoto bersama satu kelas dengan minta tolong orang yang dipanggil Fanny. Dan pulang hingga sampai sekolah lagi pukul 18.30 an.
Sekian cerita saya, :P

Wassalamualaikum Warahmatullai Wabarokatuh.

Selasa, 02 Juli 2013

Cerita Pengalaman

Tuhan Itu Baik
“Rima, ayolah kamu ikut!”, kata Alfin memaksaku. Sangat semangat sekali rupanya, padahal aku sudah berkali-kali menolaknya. Yah, bukannya aku tak suka mungkin aku cuma takut kalau aku malah memalukan di perlombaan tersebut. “Aku nggak minat Fin,!”, kataku. “Ayolah aku kurang  1 anggota. Bantu aku lah! ”. “Baiklah, asal Dilla juga harus ikut!” kataku. Akhirnya aku menyerah untuk menolak. Tak apalah, tak ada salahnya juga ikut. Akhirnya Alfin menulis namaku sebagai anggota kelompoknya yang berjumlah 3 orang di sebuah olimpiade tingkat SMP. “Eh Fin, persyaratannya apa saja? Nanti aku siapkan.”, kataku tak ikhlas. “Ya seperti lomba pada umumnya ditambah fotocopy kartu pelajar.” Katanya. “Apa?!? Kartu pelajarku itu hilang, memakai  kartu apa saya?” kataku kaget. “ Hilang? Kenapa kamu nggak bilang. Terakhir mengumpulkan persyaratannya itu lusa, terus namamu juga terlanjur aku kumpulkan ke guru tadi.” Katanya.  “Pakai kartu pelajar orang lain nggak bisa?”,tanyaku.  “Kalau memakai kartu pelajar orang lain ya tidak bisa, namanya kan nama dia. Pokoknya kamu harus ikut.” Aku berpikir keras apa tindak lanjutku nanti. Tiba-tiba muncul di otakku sebuah ide jahat, namun tak masalah jahatnya juga tidak terlalu jahat. Akhirnya aku pergi menuju teman kelas 7 yang wajahnya mirip denganku. “Hei Er, kamu bawa kartu pelajar nggak?" tanyaku. “Kartu pelajarku masih dipakai untuk pinjam buku Rim, kira-kira lusa kembali. Memang ada apa?” katanya. “Tidak ada apa-apa, terima kasih ya Ersa!” kataku langsung beranjak pergi kembali ke kelas. Sesampai di kelas, aku tanya ke teman-teman siapa yang membawa kartu pelajar. Kebetulan yang bawa hanya Diana, padahal bukan dia yang aku harapkan untuk membawa. Lalu aku pinjam saja, daripada tidak ada. Kemudian bel masuk berbunyi pertanda istirahat selesai, dan aku mengikuti pelajaran seperti biasa.
Ketika pelajaran berlangsung aku terus memikirkan cara untuk mengatasi kartu pelajar tersebut. Di tengah pikiranku yang sedang pergi ke mana-mana, Dilla teman sebangkuku bertanya “Eh, kartu pelajarnya Diana mau kamu pakai apa?” “Untuk memenuhi persyaratan perlombaan kita, tahu kan?” jawabku. “Tapi namanya kan beda?”tanyanya lagi.  “Sudahlah, diam saja kau!” kataku.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku pun cepat-cepat pulang untuk menjalankan aksiku. Segera aku pergi fotocopy kartu pelajar Diana. Lalu pulang dan menjalankan niat utamaku. Sesampai di rumah, aku  langsung menyalakan komputer dan membuka microsoft word untuk mengetik sesuatu. Lalu kuatur ukuran hurufnya sekecil mungkin dan jenis yang sesuai. Tak lama kemudian aku cetak dan gunting hati-hati. Lalu kutempelkan di fotocopy kartu pelajar Diana tadi dan aku fotocopy lagi. Sehingga jadilah kartu pelajar tiruan karyaku. “Yeah! Akhirnya jadi juga. Tapi sayang fotonya agak mencurigakan. Aku dan Diana beda sekali.”
Keesokan harinya, aku serahkan semua persyaratan pada Alfin. “Nih, persyaratan sudah aku lengkapi.” Kataku. “Terus kartu pelajarmu?” tanyanya. “Sudahlah, lihat saja.” Perintahku misterius. Lalu ia pun melihat dan langsung tertawa. “Haha.. Rima, Rima. Kreatif sekali kau. Ini sebabnya kamu pinjam KTPnya Diana. Sayang fotonya beda jauh dengan kau. Diana terlihat lebih besar dan kau sangat kecil. Rambut Diana berombak, kamu lurus.” “Sudahlah, mana mungkin panitianya lihat satu-satu. Lagian fotonya itu buram akibat efek fotocopy. Kalau ditanya, tinggal bilang kalau ini foto kelas 7 dulu. Gampang kan? “ kataku enteng. Alfin yang masih kaget dengan hasil karyaku memamerkan ke teman 1 kelas, termasuk Diana. Diana yang punya kartu hanya tertawa kecil karena pemalsuan kartu pelajar karyaku. “Sudahlah, tak usah dipermasalahkan lagi. Kepepet ini. Alfin, cepat berikan pada gurunya biar segera dikirim.” Kataku.
Sekarang, tibalah aku, Alfin dan Dilla berangkat lomba. Karena lomba ini di luar bidang sekolah, kami pun harus berangkat sendiri ke daerah pusat kota. Kami sepakat  ke kota naik bus, karena tidak mau merepotkan orangtua. Pukul 05.30 kami sudah berada di depan sekolah untuk mencari bus. Setelah lama menunggu, akhirnya kami mendapat bus yang sesak penumpang. Selama perjalanan, kami bertiga harus berdiri. Dan tanpa sengaja aku menyenggol seorang bapak-bapak garang dari Madura yang sedang menelpon hingga bapak itu melotot dan menggerutu tidak jelas. Kami yang takut segera menjauh darinya. Tidak terasa sampailah kami di halte bus terdekat dari tempat lomba. “Akhirnya sampai juga, tapi tempat lombanya masih jauh nggak?” kata Dilla. “Aku nggak tahu” jawabku. Kemudian Alfin bertanya pada penjual koran, “Pak, SMA INSAN CENDEKIA kira-kira berapa meter dari sini?” “SMA INSAN CENDEKIA? Adik tidak salah? Itu jauh di sana, Dik. Sangat jauh.” Katanya. “Oh, terima kasih Pak!” jawab Alfin. Kami pun terus berjalan menuju arah yang ditunjuk penjual koran tadi. “Wah, ternyata jauh sekali” kata Dilla. “Halah, mungkin dia Hiperbola.” Kataku. Karena aku kurang percaya, aku bertanya pada ibu-ibu yang menyapu. “Bu, SMA INSAN CENDEKIA berapa meter dari sini?” “Jauh, Dik. Biasanya kalau dari Halte, siswa-siswa ke sananya naik angkutan.” Jawab ibu tadi. Lalu aku pun permisi sambil mengucapkan terima kasih pada ibu itu. “Gila, ternyata jauh juga. Kata ibu tadi biasanya ada angkutan, tapi sekarang kok tidak ada ya?” kataku. “Iya nih, kita terpaksa harus jalan sampai ada angkutan lewat.” Kata Alfin. “Yah, kalau tidak dapat angkutan. Bisa-bisa terlambat.” Kata Dilla. “Halah santai saja.” Kataku. Selama perjalanan sambil mencari angkot, kami terus menoleh kanan kiri berharap ada seseorang yang kasihan terhadap kami. Tak terasa, kami sudah mendekati daerah lomba tiba-tiba Dilla berkata, “Itu ada angkot!” “Halah, sedikit lagi sudah sampai. Itu! Sudah terlihat Gedungnya.” Kata Alfin. Semakin dekat, semakin dekat akhirnya kami sampai juga. Sesampai di sana, kami segera mencari tempat istirahat yang strategis yaitu bawah pohon. Tiba-tiba teman satu SMP menghampiri kami. “Hei, naik apa kamu kemari?” tanyanya. “Naik Bus,” Jawab kami singkat. Segera kami hanyut dalam perbincangan tak penting dengannya.
Waktu  perlombaan pun tiba, kami mengerjakan tes babak 1 berjumlah 100 soal yang lumayan membingungkan. Kulihat Alfin yang berpikir keras dan Dilla menulis jawaban yang disampaikan Alfin. Sedangkan aku? Tak tahu harus melakukan apa, hanya diam dan memperhatikan peserta lain yang juga ribut dengan kelompoknya. Agak minder sebenarnya, melihat orang-orang bermata sipit yang terlihat serius mengerjakannya. Yang sudah yakin jika mereka bisa menang. Hingga akhirnya, aku yang berada di antara Dilla dan Alfin menggebrak meja, Brakk.. kulihat semua peserta melihat ke arahku. Aku yang menjadi sorotan hanya pura-pura tak tahu. Alfin dan Dilla yang sedari tadi serius menatap bingung ke arahku. “Sudahlah, ayo dikerjakan lagi.” Kataku sambil mulai mengerjakan sedikit-sedikit.
Bel tanda tes usai berbunyi, kami yang kurang yakin beberapa soal hanya bisa pasrah. “Mudah-mudahan bisa lolos babak selanjutnya.” Kata Alfin yang di amin-i oleh aku dan Dilla. Di luar, kami segera mencari teman satu SMP  untuk berbagi pengalaman mengenai  soal tadi. “Hei Alfin! Bagaimana soalnya tadi?” tanya Bintang. “Nggak 100% yakin! Tapi mudah-mudahan bisa lolos 20 besar.” jawabnya pasrah. Sambil menunggu pengumuman, kami keliling SMA ini. Berharap ada sesuatu yang unik. Hingga akhirnya kami menghampiri bazar buku yang kebetulan ikut berpartisipasi dalam perlombaan ini.
Tiba saatnya pengumuman, aku, Alfin dan Dilla mencari nomor peserta kami di papan pengumuman untuk yang lolos 20 besar. “Alhamdulillah ya Allah, kita lolos! Tuhan memang baik” kata Alfin bangga. Dan kami yang bahagia segera keluar dari kerumunan sesak itu. “Alfin, selamat ya! Bisa lolos dari 300 peserta.” Kata Bintang. “Terima kasih Bintang, jangan kecil hati ya!” kata Alfin. Tiba-tiba pengumuman berbunyi, “Bagi yang lolos 20 besar, diharapkan memasuki ruang 1 untuk mengambil piagam.”  “Alfin, Dilla, ayo kita ke ruang 1” kataku.
Setelah mengambil piagam, kami kembali berkutat dengan soal yang kali ini bilingual. Aku kini turut mengerjakan dengan serius, tidak seperti babak 1 tadi. Di tengah seriusku, bel sisa waktu 15 menit berbunyi. Kami segera berpikir lebih keras lagi dan sebagian mengerjakan dengan suara hati. Untuk babak ke 2, waktu memang cuma 1 jam, sedang kan soalnya berjumlah 50. Sehingga kami hanya memiliki waktu sedikit.
Waktu telah selesai, kami kembali hanya bisa berdoa. Semoga mendapat hasil yang terbaik. Sambil menunggu, kami hanya keliling sekolah itu lagi bagaikan orang hilang. “Aku tak yakin jika bisa lolos 6 besar.” Kataku. “Kenapa? Harus optimis!” kata Alfin. “Tapi yang babak 2 itu soalnya sulit sekali. Selain itu waktunya hanya sedikit.” Kataku. Kulihat Dilla hanya bisa pasrah dengan wajah letihnya. Aku tahu jika dia juga tidak begitu yakin bisa lolos. “Sudahlah, ayo cari tempat duduk.” Kata Dilla lemas. Kami pun segera duduk di kursi depan kelas.
Aku merenung diam, tak mendengarkan apa yang Alfin dan Dilla bicarakan. Ku tolehkan kepalaku ke arah samping, terlihat kakak panitia menghampiriku. “Dik, pengumumannya sudah bisa dilihat di papan.” Katanya sambil tersenyum. Alfin yang mendengar langsung antusias. Aku hanya lemas mengikutinya. Ketika dia melihat papan, wajahnya langsung lemas. Aku tahu apa yang terjadi, tanpa banyak tanya ku ajak dia pulang. “Ayo pulang, sudah hampir sore!”

Kami berjalan kembali menuju halte. Di tengah perjalanan, wajah Alfin terlihat tak bersemangat. Aku hanya diam membiarkannya. “Sudahlah, mungkin ini yang terbaik. Jangan terlalu dipikirkan.” Kata Dilla tiba-tiba. “Tapi itu tadi adalah jalan untuk bisa bersekolah di sana.” Kata Alfin. “Mungkin jalanmu bukan lewat jalur ini, mungkin jalur tes.” Kata Dilla lagi. “Tidak ada manfaatnya, susah-susah kesini tapi tidak mendapat apa-apa.” Kata Alfin lemas. Dan keadaan mendadak hening. Kami berjalan dengan pikiran masing-masing. “Kalau seandainya kamu dulu nggak mengajakku ikut lomba ini, mungkin aku tidak akan kreatif membuat KTP tiruan.” Kataku tiba-tiba sambil menatap lurus. “Kalau kita nggak ikut lomba ini,  tidak akan ada kenangan kita naik bus desak-desakan bersama .” Kata Dilla. “Kita juga tidak akan merasakan susah dan malunya jalan kaki sejauh 2 kilometer di keramaian kota.” Kataku. “Kita juga tidak akan merasakan semangat dan kompaknya kita ketika menjalani sulitnya perjalanan ini.” Kata Dilla. “Tuhan itu baik, karena Tuhan akan memberi kita hikmah di setiap perlakuan kita.” Kataku. “Jadi ayo semangat! Seperti pagi tadi”, teriak Dilla sambil menarik kami berdua berlari menuju halte yang masih cukup jauh.

Selasa, 16 April 2013

Mengenai Pepsi






Ketika menunggu kursus inggris

Main Bulu tangkis

Main catur
Saat belajar materi UN bersama



Assalamualaikum wr.wb


Mendadak rindu dengan PEPSI, kelasku ketika SMP dulu. Rindu juga dengan suasana ketika les inggris sepulang sekolah. Dulu sebelum les, kami selalu sholat berjamaah dzuhur yang selalu menyebabkan rebutan sarung untuk yang laki-laki dan mencari Imam. Kemudian ketika di kelas, ada batas suci di teras untuk melepas sepatunya. Jadi, ketika sampai batas suci teras, sepatu harus dilepas dan dimasukkan ke lemari. Bagi siapa yang melanggar, akan di kenakan sangsi membersihkan kelas hingga balkon (teras) sendirian. Lemari? Sebenarnya di kelas kami tidak ada lemari. Lemari sepatu itu sebenarnya hasil temuan salah satu anak di Lab TIK yang letaknya bersebelahan dengan kelas kami. Kemudian ketika Jumat bersih, kelas kami mendapatkan area belakang kelas untuk dibersihkan setiap Jumat. Jadi, setiap Jumat kami selalu berbondong-bondong turun untuk membersihkan area itu. Sebenarnya tidak terlalu serius dalam membersihkannya, karena kebanyakan main-main dan bergosip ria -_-. Setelah itu ketika kami sedang dalam waktu menjelang UN, setiap hari selalu diberikan materi mengenai UN saja sehingga pulang lebih awal daripada adik kelas. Namun bukannya pulang, kami malah main-main di kelas sambil menunggu kursus bahasa inggris yang didatangkan dari luar sekolah. Ada yang main bulu tangkis amatir, dengan menggunakan kertas yang di bentuk bola sebagai kok dan buku tulis sebagai raket. Biasanya yang berlaku demikian adalah Sarony, Irfan, dan Alfin, 3 makhluk kecil di kelas. Ada juga yang tetap belajar (anak ini memang rajin), seperti Diana, Nova, Wahyu dan terkadang Bintang dan Dwi. Kemudian ada yang main catur yang di bawa Arzun, biasanya yang main catur itu Arzun, Dedi, Fahriza, Irfan, Chamdani, Agung dan terkadang saya, Fitri dan Bintang juga ikut, ikut melihat maksudnya. Ada yang merajut seperti Nadya. Terkadang jika ada yang bawa laptop, digunakan untuk bermain angry birds bersama. Sedangkan saya? Setelah diberikan materi UN saya pulang dulu lalu kembali lagi, karena rumah saya sangat dekat. Setelah itu saya memotret kebiasaan mereka untuk diabadikan.


Wassalamualaikum wr.wb.

Cinta adalah Permata - Kahlil Gibran


Satu jam tercurahkan  mengejar keindahan. Dan cinta adalah permata kemuliaan abad, yang diberikan oleh orang lemah tertindas kepada orang-orang yang kuat.
Sejak itu jam menampakkan kebenaran manusia, dan selama abad itu kebenaran tertidur lelap di antara tangan-tangan tidak berguna yang menghancurkan impian-impian.
Pada jam itu jiwa bercerminkan dirinya sendiri menjadi Hukum Alam.
Dan karena itu, abad ini aia mememnjarakan dirinya sendiri di balik hukum manusia.
Dia terbelenggu oleh rantai-rantai  penindasan.
Jam itu adalah inspirasi nyanyian – nyanyian Sulaiman, dan abad itu adalah kekuatan buta yang menghancurkan kuil  Baalbek.
Jam itu adalah lahirnya Utusan di atas gunung dan abad itu menghancurkan istana Palmyra dan Menara Babylon.
Jam itu adalah saat hijrahnya Nabi Muhammad dan abad itu pula Allah, Golgotta dan Sinai.
Satu jam tercurahkan ketika jiwa disucikan oleh kesedihan mendalam dan diterangi oleh obor cinta. Dan abad itu, hasrat akan kebenaran terkubur dalam perut bumi.
Jam itu adalah akar-akar yang harus tumbuh subur. Jam itu adalah jam meditasi , sembahyang, dunia baru kebaikan.
Dan abad itu adalah kehidupan  sang Nero yang dihabiskan untuk kepentingan pribadi yang diambil senata-mata dari substansi keduniawian.
Inilah kehidupan.
Terlukis dalam panggung waktu.
Terekam rapi dalam rangkaian abad.
Hidup terasing selama bertahun-tahun. Disenandungkan sebagai nyanyian.
Dan dimuliakan hanya untuk jam, tetapi jam itu disimpan oleh keabadian laksana permata cinta.

Senin, 15 April 2013

Keinginan

Assalamualaikum wr.wb.

Postingan kali ini saya ingin membahas mengenai keinginan. Setiap manusia selalu punya keinginan, baik itu keinginan masa sekarang maupun masa depan. Baik itu keinginan jangka pendek atau jangka panjang. Namun sepertinya sia-sia jika kita hanya “Ingin” tanpa bertindak. Keinginan itu hanya akan menjadi imajinasi belaka. Pernahkah sobat mendengar mengenai “Menulis keinginanmu di kertas”? jika pernah sudahkah sobat melakukan? Ya! Sebenarnya menulis keinginan di kertas tidak menjamin keinginan terkabul, namun hal ini dapat membantu kita untuk termotivasi sehingga kita terus berusaha mencapai keinginan kita. Ingat! Sesuatu tanpa usaha itu sia-sia. Namun usaha tanpa doa itu lebih sia-sia. Pernah saya mendegar kisah, ketika saya mengikuti training ESQ di sekolah saya. Bahwa ada seorang anak yang menulis 100 keinginannya di kertas dan menempelnya di kamar, hingga ia terus termotivasi ketika melihat keinginan-keinginannya dan sekarang berhasil memenuhinya. Dan sekarang ia menambahnya lagi dengan 100 dan beberapa telah berhasil. Tentu sobat ingin seperti dia juga. Oleh karena itu, jika sobat sudah menulis keinginan di kertas. Jangan hanya dilihat saja. Maknai, renungkan, dan usahakan. Dan yang lebih penting, keinginan yang ditulis juga harus masuk akal. Jangan mimpi bisa masuk ke dunianya Harry Potter yang penuh sihir itu, soalnya sebenarnya itu aneh, hehehe. Pokoknya dalam berusaha “Play what you feel, feel what you play”.
Wassalamualaikum wr.wb.

Ungkapan Cinta – Kahlil Gibran

Kebanyakan perempuan meminjam hati seorang lelaki, hanya sedikit yang dapat memilikinya.
Jika engkau ingin memiliki, engkau tidak boleh menuntut.
Ketika tangan seorang lelaki menyentuh tangan seorang perempuan, mereka berdua telah menyentuh jiwa keabadian.
Cinta adalah kabut diantara para pecinta.
Setiap lelaki mencintai 2 perempuan, yang satu adalah hasil dari imajinasi dan yang lainnya belum dilahirkan.
Seorang lelaki yang tidak memaafkan kesalahan kecil perempuan, tidak akan pernah menikmati kebijaksanaan agung.
Cinta yang tidak diperbaharui setiap hari hanya akan menjadi kebiasaan dan berubah menjadi perbudakan.
Para pecinta saling berpelukan lebih erat diantara mereka.
Cinta dan keraguan tidak pernah diungkapkan dalam istilah yang sama.
Cinta adalah kata-kata bercahaya, ditulis oleh tangan yang bercahaya, di atas lembaran yang bercahaya.
Kenangan adalah bentuk lain dari pertemuan.
Lupa adalah bentuk lain dari kemerdekaan.
Kemanusiaan adalah sungai pencerahan yang mengalir dari luar keabadian ke dalam keabadian.
Kau baru benar-benar pemaaf sejati bila kau memaafkan parapembunuh yang tak pernah menumpahkan darah, maling yang tak pernah mencuri, dan pembohong yang tak pernah berdusta.
Aneh, setiap hasrat kenikmatan adalah bagian dari penderitaanku.
Di sana ada ruang antara imajinasi manusia dan karya mereka, yang hanya bisa dilewati dengan waktu mereka yang panjang.
Surga ada di sana, di balik pintu, di kamar depan, tapi aku telah kehilangan kuncinya. Barangkali aku hanya lupa menaruhnya.
Engkau buta dan aku tuli dan lidahku kelu, oleh karenanya mari kita berpegangan tangan dan saling memahami.
Beri aku pendengaran, maka aku akan memberimu suara.
Realitas seseorang bukanlah apa yang ada dihadapanmu, tapi apa yang tidak dapat ia perlihatkan kepadamu.
Sebagian apa yang kukatakan itu tidak bermakna, tetapi aku mengatakan ini semua karena sebagian lainnya mungkin dapat menyentuhmu.
Rasa humor adalah rasa dari keseimbangan.
Saat kehidupan tak menemukan seorang penyanyi untuk menyanyikan lagu hatinya, ia menciptakan seorang filosof untk mengatakan pikiran-pikirannya.
Kebenaran adalah sesuatu yang akan selalu diketahui, akan muncul pada suatu saat.
Suara kehidupan dalam diriku tidak akan dapat menyentuh pendengaran dalam hidupmu, tapi mari kita bicara agar kita tidak lagi merasa sendirian.
Saat 2 perempuan berkata, mereka mengatakan sesuatu yang tak berarti, saat seorang perempuan berkata, dia menampakkan seluruh kehidupan.
2 hal yang mengantarkan kita pada kebenaran: satu untuk meminculkannya dan satunya lagi untuk memahaminya.
Kebanyakan doktrin bagai jendela kaca. Kita melihat kebenaran melaluinya tetapi ia memisahkan kita dari kebenaran.
Dia yang ingin memahami seorang perempuan, atau membedah kecerdasan, atau memecahkan misteri kesunyian adalah orang yang benar-benar ingin bangun dari mimpi indahnya untuk duduk di meja menikmati sarapan.
Kita sering meninabobokan anak-anak kita, sementara jiwa-jiwa kita sendiri mungkin terlelap.
Kejeniusan adalah nyanyian burung murai di awal musim semi yang lembut.
Perbedaan antara orang kaya dan orang miskin hanyalah pada hari saat merasa lapar dan jam haus.
Kita hanya hidup untuk menemukan keindahan. Yang lainnya hanyalah bentuk penantian.
Puisi adalah kebijaksanaan yang memesonakan hati.
Kebijaksanaan adalah puisi yang bernyanyi dalam pikiran.
Ketika engkau meraih jantung kehidupan, engkau akan menemukan keindahan dalam setiap benda, meskipun di mata sama sekali tidak terlihat indah.
Tebarkan benih-benih, bumi akan memberimu bunga-bunga. Gantungkanlah mimpimu di atas langit, dan itu akan membawamu pada kekasihmu.
Tak ada jejak kerinduan yang tak terpenuhi.

Minggu, 07 April 2013

Tes Kepribadian

Assalamualaikum wr.wb

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang Melankolis, Sanguinis, Koleris dan Plegmatis. Tahukah kepribadian teman-teman masuk yang mana? coba saja tes kepribadian online! Saya akan memberi link dari tes-tes kepribadian tersebut.

Yang pertama ini http://www.psikologizone.com/tes-kepribadian-mbti
pada tes ini, hasilnya berupa kepribadian ESTJ, ESTP dan sebagainya.

Yang kedua, http://www.quibblo.com/quiz/gT2G--d/Tes-Kepribadian-Sanguin-Koleris-Melankolis-atau-Plegmatis
di tes ini akan ditanya kelemahan dan kekuatan teman-teman.

Yang ketiga,http://www.yaminsetiawan.com/cgi-bin/click.pl?id=test05&url=/test/test05.html

Yang keempat,http://www.ipersonic.net/id/

Yang kelima, http://www.huteri.com/4616/yukk-tes-kepribadian-anda-disini
tes ini berupa gambar yang paling teman-teman suka.

Yang keenam, http://pribadiku.com

Yang ketujuh, http://www.isdaryanto.com/tag/tes-kepribadian-online

Coba ya, teman-teman masuk yang mana. Hasilnya unik-unik lho!

Wassalamualaikum wr.wb.